Saya dan Amel batal keliling Selcuk dengan menyewa motor karena beberapa jalan utama saat itu ditutup untuk acara bike festival. Sejak hari pertama datang itinerary kami mulai kacau karenanya walaupun akhirnya tempat-tempat yang utama pengen kami datangi, terjabanin semua.
Sore pertama kami menghabiskan waktu di Ephesus, yaitu komplek reruntuhan sisa-sisa dari sebuah kota kuno di jaman Romawi yang keindahannya masih tergambar dengan jelas. Bisa dijangkau dengan naik dolmus dari otogar dengan ongkos 2.5TL. Tiket masuknya seharga 20TL, tapi kami membeli paket Turkey Museum Pass seharga 185TL yang bisa digunakan hampir ke semua museum di Turki selama 15 hari. Bisa dibeli loket museum-museum besar dengan menunjukkan paspor.
Sepanjang menyusuri reruntuhan saya jadi membayangkan betapa megahnya kota itu pada masa kejayaan Romawi dulu, seperti apa bentuk aslinya, bikinnya berapa lama dan gimana, bisakah sekarang dibenerin sampai seperti dulu lagi? Rasanya mustahil karena terlalu luas dan megah.
Bangunan-bangunan yang kemegahannya masih kentara diantaranya adalah Grand Theater yaitu undak-undakan tempat duduk balkon 3 tingkat, seperti stadion separuh lingkaran dan di tengahnya terdapat panggung pementasan. Membayangkan jaman dulu ribuan orang duduk disitu. Ajegile. Konon ini adalah tempat diadakannya pertunjukan seni, pementasan drama dan juga adu gladiator dengan binatang.
Tak jauh dari Grand Theatre terdapat Celsus Library yang masih menyisakan pilar-pilar kokoh dan megah. Saya coba merangkul salah satu pilar dengan kedua tangan tidak cukup saking gedenya. Padahal masih banyak yang lebih besar lagi. Kurang megah apa coba. Dinding di bagian luarnya pun dihiasi dengan ornamen patung dewa dewi yang bagus dan gede-gede. Pinter-pinter banget sih orang jaman dulu. Konon ini merupakan perpustakaan terbesar ketiga dimasa itu yang memiliki 12.000 roll buku. Jaman dulu bukunya gulung-gulungan gitu mungkin.
| Patungnya ngledek banget "Melihat kalian sakitnya tuh disini..." |
Selain dua tempat diatas masih banyak lagi reruntuhan menarik lainnya seperti House On The Slopes (saat itu sedang renovasi), Temple Of Hadrian, Temple Of Domitian, Water Palace, Odeum, Prytaneion dan lain-lain deh masih banyak pokoknya. Memang lebih baik menyewa tour guide biar dijelaskan satu per satu. Seharian belum tentu terkupas semua karena memang komplek ini luas sekali. Jangan seperti saya yang cuma modal browsing. Tapi akhirnya saya membeli bukunya di abang-abang yang jualan souvenir karena penasaran.
Ada yang lucu sih beberapa kali sempat ketemu dengan rombongan wisatawan dari Indonesia, banyak ibu-ibu yang jalannya kepleset sambil ngomel-ngomel "Apaan sih cuma lihat-lihat batu kya gini mending shopping" Ya iya lah tante lagian ke tempat begini pake high heels, kya saya donk pake sendal jepit hahaha... Memang kalau ga tau sejarahnya komplek ini hanyalah seonggok reruntuhan batu yang tak beraturan.
Lebih dari 3 jam kami menyusuri reruntuhan Ephesus dan pastinya tidak menjangkau semuanya karena matahari pun keburu tenggelam selain kaki juga rasanya berdenyutan. Ternyata kami kehabisan Dolmus/angkotnya Turki untuk kembali ke kota. Beberapa sopir taksi menawarkan 10TL tapi kami enggan untuk mengambilnya, masih terasa berat untuk beranjak seketika dari komplek Ephesus ini. Kami memutuskan untuk jalan kaki pelan-pelan sambil berharap ada dermawan yang bersedia memberikan tumpangan. Sempat terpikir untuk nebeng bus-bus wisata, tapi tampaknya masih lama menunggu wisatawannya kembali.
Baru beberapa langkah dari parkiran tiba-tiba melintas sebuah mobil yang dikendarai oleh seorang kakek. Saya sengaja menatap sang kakek dalam-dalam berharap akan diajak. Dan benar saja...
"Where are you going?" teriak sang kakek dari dalam mobil.
"Selcuk"
"Come in, I'm not teroris..."
"Selcuk"
"Come in, I'm not teroris..."
Alhamdulillah akhirnya dapet tumpangan juga. Sepanjang jalan kakek bercerita tentang Ephesus dan juga perkebunan sayur dan buah-buahan yang berada di kanan kiri jalan. Dari cerita kakek makmur sekali tanah Selcuk ini. Tiba-tiba kakek memberi kami jeruk gede yang berserakan di mobilnya. "This is Turkish orange, fresh and sweet". Masya Allah baik sekali kakek, thengkyu thengkyuu...
| Di dalam mobilnya kakek |