Suatu hari saya naik pesawat milik Uni Emirat Arab dan transit di Abu Dhabi. Mendengar kata Abu Dhabi pikiran saya melayang ke beberapa tetangga yang menjemput rejeki di negeri padang pasir itu. Banyak diantara mereka rela berjauhan dengan sanak family dan mengadu nasib disana atau memboyong keluarganya sekaligus. Tak heran jika di ruang tunggu beberapa kali bertemu dengan rombongan yang akan kerja di Abu Dhabi, terdengar dari obrolannya. Hihi ketauan nguping kan...
Pagi itu pesawat yang saya tumpangi dari Kuala Lumpur mendarat di Airport Abu Dhabi sekitar pukul 04.00 waktu setempat. Luas dan ramai sekali airportnya sehingga memakan waktu yang lumayan lama sejak pesawat landing sampai semua penumpang tiba di gedung terminal. Selesai pemeriksaan di pintu transit saya segera mencari mushola untuk menunaikan sholat subuh karena hari beranjak semakin terang. Saya kelupaan dengan mukena ikut dimasukkan ke tas di dalam bagasi sehingga saya memakai mukena yang tersedia di mushola. Selesai sholat sudah ada ibu-ibu dengan logat melayu yang sudah menunggu mukena yang saya pakai.
"Silahkan..." kata saya kepada beliau.
"Makaseh.. Dari Malaysie?"
"Bukan, saya Indonesia"
"Oo.. kerje disini"
"Tidak, saya transit aja bu..."
"Ooo..."
"Makaseh.. Dari Malaysie?"
"Bukan, saya Indonesia"
"Oo.. kerje disini"
"Tidak, saya transit aja bu..."
"Ooo..."
Sepertinya sih beliau kerja atau ikut suaminya kerja di Abu Dhabi. Dan saya hampir dikira... Itu cerita saya saat pertama kali transit di negeri onta.
Kedua kalinya ketika saya akan kembali ke tanah air dari Istanbul menuju ke Jakarta. Kali ini pesawat landing saat matahari terbenam di Abu Dhabi. Saya segera mencari mushola untuk sholat maghrib. Tiba-tiba ada seorang ibu yang tampak kebingungan menghampiri saya. Tangan kiri mendorong troli berisi beberapa tas dan tangan kanan memegang paspor dengan boarding pass yang terselip di dalamnya.
"Mbak dari Indo juga kan?"
"Iya bu"
"Mau ke Jakarta naik Etih*d juga ya"
"Iya"
"Sama kita bareng ya, yang mana ya pintunya"
"Coba lihat boarding passnya bu"
"Ini saya ke Singapur dulu"
"Ouw saya langsung Jakarta bu ga ke Singapur, pesawat kita beda saya nanti jam 2"
"Oh beda ya saya sebentar lagi, trus saya harus kemana?"
"Ibu di terminal 3, nanti cari gate 4 ya lihat dari tulisan kuning yang diatas itu" kata saya sambil menunjuk ke papan gate yang banyak terpampang.
"Oo iya, tinggal perhatiin papan kuning itu aja ya"
"Iya bu ati-ati ya...
Saya ingin melanjutkan niat ke mushola tapi tampaknya ibu masih menghentikan langkah saya.
"Tadi temen saya kasian lho mbak, bagasinya ga dinaikin ama majikannya hampir ketinggalan, untung punya saya dinaikin" jadi curhat.
Sambil mikir, dinaikin ke mobil apa ke pesawat ya? Apa ga dibeliin bagasi? Ah entahlah ngapain saya yang pusing...
"Ouw gitu, trus gimana tuh bu?"
"Jadi dinaik-naikin sendiri"
"Oh syukurlah"
"Trus tadi mbak gimana, dianterin ga ama majikannya?"
"Jadi dinaik-naikin sendiri"
"Oh syukurlah"
"Trus tadi mbak gimana, dianterin ga ama majikannya?"
Mak JLEBB!!! Gedubrraaakkkk. Ibu nanya ke saya?? Antara bingung pengen ketawa, percaya ga percaya. Kalau di film kartun ekspresi saya tuh yang mata melotot sampe mencelat keluar trus ngglinding ke selokan saking kagetnya. Berhubung ibu masih penasaran nungguin jawaban saya, ya mengalirlah jawaban seadanya...
"Iya bu tadi saya dianterin..." sambil mengangguk dan tersenyum maksa.
Sampai di toilet tak henti-hentinya saya melirik ke kaca, berarti tampang kya saya ini cocoknya punya majikan di Abu Dhabi ya, baiklah segera browsing cari lowongan...