Diberdayakan oleh Blogger.

Minggu, 08 Maret 2015

Travelling Never Alone

Jalan-jalan sendiri kedengerannya memang aneh. Ngapain aja disana cengo sendirian celingak celinguk, apa ga takut tersesat, takut diculik, takut dijahatin... Itu semua bukan alasan. Jangan salah walaupun judulnya jalan-jalan sendiri tapi di perjalanan atau sampai di tempat tujuan pasti kita tidak akan sendiri. Banyak sekali teman disana dan kalau sudah merasakan sekali malah ada perasaan menyesal, hari gini baru jalan-jalan sendiri kemaren-kemaren kemana aja. Apalagi kalau ingat pernah jalan-jalan full ikut paket tour, bah... nyesel udah mahal ga puas lagi. 

Saya beberapa kali sudah membuktikan. Suatu hari saya dari Langkawi hendak menuju ke Satun dilanjutkan ke Hatyai. Dari Hatyai akan melanjutkan perjalanan ke Krabi. Dua hari sebelumnya saat baru tiba di Langkawi, bapak sopir taksi yang baik hati ingin sekali membantu saya menunjukkan tempat membeli tiket ferry Langkawi - Satun. Beliau sendiri yang berinisiatif mencarikan tempat tersebut sampai ketemu, sampai rela muter bolak balik di jetty point. Bukan hanya itu beliau sampai turun ke loket untuk memastikan jadwal ferry, agar saya bisa memperkirakan waktu sebelumnya.

Dua hari kemudian sambil menunggu imigrasi di jetty point Langkawi saya duduk bersebelahan dengan turis Amerika. Kami saling bercerita tujuan masing-masing. Beliau bersama suaminya akan menuju ke Trang sedangkan saya akan ke Hatyai kemudian ke Krabi. Saya belum tau dari Satun ke Hatyai naik apa nantinya, rencana hanya sambil jalan sambil nanya. Ternyata dikasih tau oleh beliau kalau mau ke Krabi tidak usah lewat Hatyai lagian katanya Hatyai jelek ga ada apa-apa, mending langsung ke Krabi lewat Trang. Bisa naik bus atau van.

Setelah keluar dari imigrasi Satun, banyak sekali travel yang menjual tiket ke berbagai tempat di Thailand Selatan dari mulai Trang, Koh Lanta, Krabi, Koh Phi Phi, Phuket, Hatyai, Koh Samui dan masih banyak lagi. Saya asal membeli tiket van ke Krabi pada ibu-ibu berkerudung. Rupanya tidak banyak orang yang membeli tiket ke ibu itu tapi ke travel di sebelahnya yang teriakannya lebih kenceng. Sempat menyesal dan khawatir salah beli. Ternyata tidak, dimanapun kita membeli tiket harganya sama dan nantinya akan dikumpulkan untuk diberangkatkan bersama.

Hanya menunggu 15 menit saya diantar oleh ibu penjual tiket ke mobil van. Mobil ini berkapasitas 18 orang, saat itu hanya saya dan sopirnya yang rambutnya tidak berwarna pirang. Untung  saya pakai kerudung jadi ga kelihatan rambut saya warna apa. Ada turis dari Norwegia, Finlandia, Jerman, Belgia, Belanda, Denmark dan Australia. Kami duduk diatur oleh sopir van sesuai dengan tujuan masing-masing, yang paling jauh di kursi belakang dan yang akan turun duluan di dekat dengan pintu. Begitu juga dengan tas ransel kami, yang paling atas pastinya yang akan turun duluan. Saya salut dengan mereka semua tidak ada yang protes satu pun. Apalagi ada yang separo kursinya kena tas ransel sehingga duduknya agak berdesakkan, tidak jadi masalah.

Setengah perjalanan menuju ke Trang (setelah 2.5 jam perjalanan) mobil berhenti di pom bensin kami diberi waktu 30 menit untuk istirahat. Saya ditunjukkan oleh pak sopir yang baik dan ramah, warung makanan yang penjualnya ibu-ibu berkerudung “muslim muslim halal...”. Alhamdulillah banget bisa makan dengan tenang.

Inilah van kami.
Dari Satun, Trang sampai Krabi banyak orang muslim jadi tidak susah mencari makanan halal.

Tepat 30 menit kami semua kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan. Satu setengah jam kemudian mobil berhenti di depan stasiun kereta Trang. Rupanya disini kami dipisah-pisah lagi. Yang ke Koh Lanta dipindahkan ke mobil yang lain. Saya dan penumpang yang lain tujuan Krabi dan Phuket juga dipindahkan. Entahlah sisanya kemana. Di mobil yang baru bertemu lagi dengan teman baru. Salah satunya adalah mbak-mbak dari Australia yang sedikit bisa bahasa Thailand jadi bisa menerjemahkan dialog antara kami dengan sopir van. Tadinya saya dikira dari Malaysia, setelah saya jelaskan dari Indonesia beliau langsung memberikan respon yang baik karena pernah ke Bali. Sampai di Krabi beliau membantu kami yang akan pergi ke Ao Nang, membantu menerjemahkan kata-kata sopir van, “Mau turun di Krabi Town dan naik songthew sendiri atau mau menyewa van lagi dengan menambah 100 bath?”. Tentunya setelah 7 jam perjalanan kami sepakat menambah 100 bath diantar sampai depan penginapan. Saya juga sudah browsing salah satu hostel (bukan hotel) yaitu di Ao Nang Backpacker, syukurlah  pak sopir tau tempatnya.

Saya orang kedua yang diturunkan oleh pak sopir setelah mbak Australia, tepat di depan hostel. Di hostel bertemu dengan teman baru lagi. Saya kebagian kamar female dorm sekamar 6 orang dengan harga 300 bath semalam (Rp 117.000). Sekamar dengan turis dari Finlandia 2 orang, Belgia 1 orang, Hawai 1 orang dan 1 orang lagi kalau ga salah dari Denmark. Lagi-lagi kulit dan rambut saya item sendiri. Alhamdulilah baik-baiiik semua, mbak Belgia menawarkan jalan bareng besoknya, mbak Hawai ngajak cari makan bareng dan semua mengijinkan saya untuk sholat di kamar. Rasanya seperti tinggal di kost-kost’an.

Sore hari saya jalan-jalan ke pantai Ao Nang, dalam keadaan masih galau antara ikut jalan sama mbak Belgia, ikut tour james bond atau ke Phi Phi Island. Sebenarnya saya lebih tertarik ke Phi Phi Island tapi berat rasanya berpisah dengan teman sekamar yang baik-baik itu. Selesai sholat maghrib saya duduk dulu di masjid menunggu sholat isya sambil berdoa kepada Allah agar ditunjukkan kemana saya harus melangkah. Anak-anak kecil yang sedang belajar mengaji memberikan salam akrab kepada saya seperti kedatangan teman baru (dalam hati saya udah tua ya de….). Semakin memberatkan langkah saya untuk pergi dari Ao Nang ini, tak terasa saya menangis, lebay sih tapi disitu kadang saya merasa sedih.

Mbak Belgia mengajak saya Rock Climb, saya kurang tertarik karena takut ketinggian. Ikut tour james bond saya masih trauma mabuk laut sepanjang perjalanan saat ke Gunung Krakatau. Jadi yang sangat mungkin ke Phi Phi Island. Tiket ferry ke Phi Phi Island rata-rata 450 bath one way, banyak dijual di travel-travel yang bertebaran di sepanjang pantai Ao Nang. Tapi alhamdulillah saya menemukan satu travel yang hanya menjual 300 bath dijemput di penginapan.

Selalu kangen dengan tempat ini
Biar berantakan tapi kamar ini bersih dan tetap wangi, bed saya yang diatas selimutnya biru.

Besoknya tepat jam 12 siang setelah cek out dari hostel saya dijemput oleh mobil van bersama dengan 3 teman sepenginapan tapi beda kamar. Di dalam van sudah ada beberapa turis dari penginapan lain tapi ga ada yang berambut hitam seperti saya. Kami diantar ke pelabuhan tempat ferry menuju ke Phi Phi. Masih sedih teringat segala suasana hangat selama di Ao Nang. Saya hanya berharap semoga di Phi Phi akan bertemu dengan teman baru yang baik-baik lagi.

Ferry Ao Nang -Phi Phi

Setelah 1.5 jam mengarungi lautan kemudian ferry merapat di pelabuhan Phi Phi. Begitu turun saya disambut oleh porter dan travel-travel yang menawarkan penginapan maupun paket-paket tour. Saya bingung karena belum memegang peta. Beberapa tempat yang bertuliskan Information Center tidak mau membantu saya karena saya tidak mau menginap di hotel yang mereka tawarkan. Saya mencoba melangkah menyusuri lorong-lorong seperti pasar sambil beberapa kali bertanya ke seseorang dimana letak penginapan yang sudah saya booking, tapi hasilnya nihil. Pundak saya mulai pegel karena kelamaan menggendong ransel. Saya pun pasrah dan akan menginap dimana saja. Saya mencoba menawar ke salah satu kamar dorm seharga 400 bath, saya tawar menjadi 300 bath. Tapi kata pemiliknya kalau mau yang 300 bath saya akan diantar ke penginapannya yang satu lagi. Setelah melewati gang kecil dan belok belok akhirnya kami sampai di penginapan yang bernama Lucky House. Dan ternyata penginapan inilah yang telah saya booking dan saya cari-cari sebelumnya. Ee Lhadhalaah..sampai terbengong-bengong, kok bisa sih? Nyasar ke tempat yang bener.

Penginapannya memang punya review yang tidak bagus, tapi saya penasaran dengan stafnya yang katanya baik banget. Kalau tidak betah tinggal disana uangnya akan dikembalikan. Setelah diantar ke kamar ternyata memang tempatnya seperti barak, sekamar 20 orang campur cewek cowok, jarak antara bed satu dengan yang lainnya hanya cukup dilewati sambil miring-miring, sprei dan sarung bantalnya bersih tapi selimutnya agak bau, lantainya banyak pasir pantai karena terbawa di kaki bule-bule yang abis dari pantai. Gubrakk..sesuailah dengan harganya. Kalau saya perhatikan sepertinya saya orang asia sendiri di kamar itu, kebanyakan cowok berbadan gede-gede dan berbulu hampir semuanya bertelanjang dada. Yang cewek hanya ber-6 termasuk saya dan kecuali saya semua bajunya hanya sepotong hanya cukup menutupi bagian yang penting doank. Biar sekamar rame-rame tapi semuanya cuek tidak saling mengganggu, negur pun hanya sekedar say hello. Saya tetap enjoy tinggal disitu justru bisa membukakan mata saya seganteng-gantengnya cowok bule pirang “I just wanna say no”. Cukup tau ajalah.

Setelah istirahat sejenak saya keluar bermaksud melihat sunset ke view point. Muter-muter kesana kemari nyari tangga menjulang yang katanya bikin nangis ga ketemu-ketemu. Petunjuknya ga begitu jelas hanya nemu 2 kali itupun kecil-kecil. Nanya ke beberapa orang malah tersesat, tembus ke pantai, ke penginapan orang dan terdampar di warung makan halal. Sampai menjelang maghrib ga ketemu juga. Akhirnya saya pindah haluan untuk mencari masjid, ada petunjuk mosque tapi dicari ga ketemu juga. Saya bertanya ke salah satu orang dan ternyata malah diantarkan ke masjid padahal jaraknya lumayan jauh. Mungkin orang itu berpikir saya kalau nyari sendiri ga bakal ketemu karena posisinya nylelip dipojokan dan ga kelihatan seperti masjid. Alhamdulillah bertemu dengan orang baik.

Selesai sholat isya tiba-tiba ada mas-mas orang Pakistan menegur saya “Assalamu’alaikum, where are you from?” Rupanya Mas X ini memperhatikan saya sejak maghrib ketika saya pertama datang ke masjid, beliau adalah imamnya. Saya diantarkan Mas X ke restoran halal milik temannya untuk makan malam, ternyata ke tempat orang yang mengantarkan saya ke masjid sebelumnya. Lah...kok bisa?. Biar disitu makanannya mahal-mahal tapi okey lah sebagai rasa terima kasih saya.

Selesai makan saya dan Mas X jalan-jalan ke pantai, ngobrol sampai malam. Biar banyak yang lagi bermesraan tapi kami tetap menjaga jarak karena kami sesama umat muslim yang tau batas dan sopan santun. Usut punya usut ternyata penginapan tempat saya menginap adalah milik temannya. Dan orang yang punya penginapan seharga 400 bath yang pernah mengantarkan saya mencarikan kamar, itu temannya juga. Disitu juga tempat tinggal Mas X. Ealah kok nyambung, Phi Phi emang sempit. Saat saya diantar pulang ke penginapan oleh Mas X, pemilik penginapannya terheran-heran dikira kami sudah saling kenal dari sebelum saya datang ke Phi Phi.

Saya tidur tidak nyenyak, suara pintu sebentar-sebentar bergeser dan juga bisik-bisik ga ada habisnya, entah apa yang dilakukan bule-bule itu. Saya berharap malam itu segera berlalu. Jam 04.15 saya tidak bisa tidur lagi walaupun suasana kamar sudah sepi tidak ada yang menggeser-geser pintu lagi. Tapi diganti dengan suara mendengkur yang bersahut-sahutan. Pagi itu saya janjian dengan Mas X untuk ke masjid bersama, masih ada waktu 1 jam untuk sholat malam. Saat mau keluar kamar, ternyata masih tersisa dua orang bule yang sedang bermesraan di depan kamar. Ada sebuah kursi yang disediakan untuk bersantai. Saya tertahan di dalam kamar menunggu mereka selesai. Astaqhfirullah….!!

Sampai di Masjid masih tersisa sedikit waktu untuk sholat malam sebelum adzan subuh berkumandang. Muadzin dan imamnya adalah Mas X. Katanya imam yang sebenarnya sedang bepergian. Selesai sholat, dzikir dan ngaji di masjid, Mas X mengajak saya melihat sunrise ke view point. Tempat yang saya cari dari kemarin ga ketemu-ketemu. Alhamdulillah ada guide gratis.


Biasa aja kok tempatnya sama aja kya di Indonesia melihat sesuatu dari ketinggian. Tapi disitu saya merasa senang.

Bukan hanya ke view point kami berlanjut trekking mengelilingi sebagian pulau Phi Phi. Lewat jalan setapak naik turun bukit, masuk ke kampung-kampungnya, suasananya mirip dengan kampung Baduy di Banten. Saya lebih excited kesini dari pada ikut tour james bond yang sudah terbayang paling begitu-begitu doank karena foto-fotonya di google juga seabreg. Kami berkeliling selama 4 jam sampai kakinya Mas X keseok-seok, alhamdulillah saya baik-baik saja.


Rumah tradisional penduduk Phi Phi
Lewat jalan setapak, disitu saya merasa senang
Trekking
Long Beach, pantainya resort-resort mahal
Maya Bay tampak dari kejauhan
Loh Dalam Beach
Island Hopping
Saya dan Mas X

Setelah mandi dan cek out saya tiduran di masjid menunggu sholat dzuhur. Kemudian berpamitan dengan Mas X yang saat itu masih duduk berdzikir. Saya melanjutkan gelandangan ke Phuket naik ferry yang kedua yaitu jam 14.00. Di dalam ferry saya memilih duduk di dalam di ruang berAC bukan di atas seperti para bule kebanyakan. Sayapun tertidur, tiba-tiba terbangun karena mencium sesuatu seperti bau-bau amis ikan busuk atau apa. Mak breenggg…. Setelah membuka mata rupanya di sebelah saya ada bapak-bapak gendut dari Perancis bersama pasangannya. Tiap kali badannya bergerak mak breeng baunya. Hadeeuuhh…kepala saya pusing. Ada ya parfum aromanya ikan busuk gitu, eh parfum atau keringet ya. Untunglah tak berapa lama mereka pindah. Lega hidung saya.

Sampai di pelabuhan Phuket saya naik ojek ke Phuket town. Saya bosen tinggal di sekitar pantai kali ini akan menginap di tengah kota. Saya telah mengincar Win Backpacker Hostel di Phuket Town seharga 200 bath semalam. Ternyata tempatnya cukup strategis dekat dengan pangkalan bus dan songthew ke segala arah. Dekat dengan fresh market ada beberapa makanan halal dijual disana. Hanya saja tidak dekat dengan masjid. Saya sekamar dengan cewek solo traveler dari Korea (Yoona) dan Swedia (Frida), dan cowok Argentina 2 orang, cowok Jerman 1 orang.

Malam itu saya bersama Frida dan Yoona jalan-jalan di sekitar Phuket Town, ke pasar membeli buah dan makan sea food di pinggir jalan. Tapi saya tidak ikut makan karena ada menu pork. Saya hanya duduk menemani mereka sambil makan buah dan telor rebus. Begitu makanan disajikan kami hanya tertawa karena pelayannya susah berbahasa Inggris jadinya pesanan kami ga sesuai semua, seperti pesen nasi dikasihnya bubur. Karena belum kenyang kami berniat mencari lagi, ada salah satu cafe mewah yang di dalamnya banyak orang berkerudung. Sebenarnya bagus saya bisa ikut makan tapi melihat tempatnya kami berniat mengintip harganya dulu dan ternyata mahal mahaal pemirsa tidak cucok untuk kantong backpacker. Ukuran orang Swedia aja mahal apalagi saya. “Oke I will come back tommorow” Sampai di luar “No..I don’t want to come back here “ Hahahaha….


Saya, Frida dan Yoona

Kami kembali ke penginapan. Saya menyeduh bubur instan bekal dari Indonesia, mereka ikut mencicipi dan katanya enak. Kalau saya sih karena ga ada makanan lagi jadi ya enak. Yoona suka dengan Indonesian food mie goreng with egg, karena saya masih menyimpan indomie maka saya bagikan satu-satu. Biar aja direbus sendiri entah bisa apa ga.

Ketika saya sholat mereka diam memperhatikan, setelah selesai nanya-nanya pengen tau ini apa? Sajadah, Mukena. “Praying berapa kali?” “Sehari lima kali” “Haaahh…!! Banyak banget, I am no religion”.

Jadwal biologis kami berbeda, saya jam 11 malem sudah harus tidur sedangkan mereka masih pergi keluar entah kemana dan pulang jam berapa. Pagi hari saya bangun mereka masih lelap. Saya keliling sendiri melihat-lihat ke dalam pasar. Saya bertemu dengan ibu-ibu berkerudung yang semangat sekali menuntun saya untuk menunjukkan tempat makanan halal. Padahal saya sudah duduk diatas bus jurusan Patong Beach tapi disuruh turun dulu, katanya beli makanan halal di Patong susah dan mahal.

Di Patong Beach saya bertemu dengan pak cik dari Malaysia yang pada akhirnya tertarik untuk ikut saya pulang ke Phuket Town. Jadi guide dadakan ceritanya. Alhamdulillah semuanya dibayarin dari ongkos bus, beli minum, jalan-jalan ke old town dan ke pasar. Terakhir beli makanan halal ayam goreng ama ketan, dimakan sambil duduk di pinggir jalan "Anggap aja kita duduk di cafe ya pak cik" hahaha....

Bersyukur sekali atas segala kemudahan yang Allah berikan saat diperjalanan. Rasanya bukan hanya suatu kebetulan tapi memang Allah telah mengatur semuanya. Kembali juga pada niat, jika niat kita baik Insya Allah akan diberikan yang terbaik pula. Selain selalu bersama kita, Allah juga akan menghadirkan teman-teman baik yang tidak disangka-sangka. Travelling sendirian siapa takut.

Perjalanan saya sebenarnya belum berakhir di Phuket masih berlanjut ke Bangkok tapi nampaknya tulisan ini udah kepanjangan jadi nanti dilanjut lagi ya... :)

Previous
Next Post »