Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 10 Maret 2015

Kuliah Lagi Buat Apa?

Diawal masuk kerja saya sangat merindukan bangku kuliah hanya sekedar masih pengen pegang bolpoint, tip-ex, pensil, penghapus, kangen diomelin dosen, kangen contek-contekan ama temen, kangen pusing ngerjain tugas dan kangen dengan seabreg dunia kampus. Ga perlu kampus terkenal, favorit atau bukan yang penting saya pengen jadi mahasiswa lagi dan merasakan pusingnya bikin skripsi. Kalau sudah lulus, kepakai syukur ga pun ya ga masalah. Ilmu tidak hanya berguna untuk mengembangkan karir. Walaupun tidak dipungkiri harapannya semoga bisa mengubah karir setelah lulus nanti. Kebayang sih bagaimana kata orang-orang nanti kalau ternyata setelah lulus kerjaan saya masih begini-begini saja. Tapi ya biarlah pasti suatu saat akan sangat berguna.

Salah satu alasan yang membuat semangat yaitu melihat foto ibu saya memakai toga. Saya bangga sekali dengan semangat beliau. Biar tinggal di kampung nyelip di antara sawah dan ladang yang berbukit-bukit, yang mana para tetangga sekitar masih jarang ada yang sekolah apalagi kuliah tapi ibu tidak terpengaruh oleh lingkungan sekitar. Beliau tetap menomorsatukan pendidikan buat dirinya sendiri dan terutama buat anak-anaknya. Termasuk saya tentunya.

Dulu masih kecil saya sering ditinggal ibu pergi kuliah, seminar, penataran dan kemana lah yang pasti saya hanya mengharapkan oleh-olehnya sewaktu pulang. Sesekali saya disuruh menuliskan tugas kuliah ibu karena waktunya terbagi untuk memasak, mencuci dan membereskan segala urusan di rumah. Disela-sela memasak atau mengerjakan tugas dari kantornya ibu sesekali mengoreksi tulisan saya yang seperti cakaran ayam. Maklum jaman dulu belum jaman komputer segalanya ditulis manual atau paling keren pakai mesin ketik. Begitulah sedikit cerita perjuangan ibu saya sampai akhirnya bisa wisuda dan naik golongan dikantornya.

Saat sudah punya gaji sendiri dan belum punya tanggungan, saya merasa malu teringat begitu besar semangat ibu saya sambil bekerja untuk membesarkan kami berenam masih juga menyempatkan kuliah lagi. Teringat juga pesan-pesan dari beliau "Kamu harus lebih baik dari ibu, biar wong ndeso tapi harus sekolah". Dari situ saya bertekad pengen kuliah lagi agar sedikit melaksanakan amanah beliau sekalian buat menyamakan ijazah dengan kakak-kakak saya. Saya sadar jika harus lebih baik dari ibu atau kakak-kakak mungkin terlalu berat karena saya hanya semangat pergi kuliah tapi kadang susah untuk konsentrasi belajar akibat suka ngantuk di kelas.

Saya mencari kampus yang mudah dijangkau dari kost yang mana kost saya dekat dengan tempat kerja. Agar suatu saat jika ada kuliah sore masih bisa dikejar setelah pulang kerja dan ongkosnya juga tidak terlalu mahal. Bersyukur masih ada kampus di pinggiran Jakarta yang bisa dijangkau dengan sekali naik bus dari Cilegon, disambung sekali naik angkot 5 menit. Saya mengambil jurusan seadanya yang penting nyambung dengan ijazah saya sebelumnya.

Bulan pertama masuk kuliah masih lancar mulus tanpa ada gangguan apapun hanya tabungan saya terkuras semua untuk membayar cicilan kuliah. Bulan berikutnya bos saya membuat jadwal kerja yang menyedihkan, tiba-tiba diubah sehingga hampir tidak ada waktu buat kuliah. Padahal beliau sebelumnya sudah tau bahwa saya kuliah lagi. Selama setahun lebih saya diberi jadwal kerja nonshift yang liburnya sabtu dan minggu, tiba-tiba ditukar posisi dengan teman saya. Maksudnya mungkin dirolling, tapi dirollingnya kok mendadak banget, seperti ada unsur di sengaja. Banyak yang menolak masuk nonshift, saya yang jelas-jelas bersedia dan memang membutuhkan malah digeser. Yah begitulah kadang dunia suka berputar. Hanya Allah yang tau.

Seketika badan lemes kaki pun serasa tak bertulang. Ada apa gerangan apa salah saya? Sebelumnya memang tidak ada perjanjian apa-apa, hanya sekedar cerita dengan beliau bahwa saya mengambil kuliah sabtu dan minggu, dengan harapan beliau bisa pengertian. Pada saat itu beliau oke saja malah seperti ikut senang ada anak buahnya yang masih semangat untuk belajar lagi. Sayapun janji bahwa kerja tetap nomer satu anggaplah kuliah hanya sekedar sampingan. Tapi ternyata begitulah yang terjadi dikemudian hari entahlah apa alasannya. Seandainya beliau tidak setuju seharusnya bilang dari awal sehingga saya bisa memikirkannya kembali. Kok ya pas setelah semua terlanjur dibayar.

Badan lunglai nyungsep di kasur sesekali mewek teringat pesan-pesan ibu. Ya Allah apa yang harus kulakukan. Sebenarnya tidak apa-apa tidak jadi kuliah tapi masalahnya saya sudah terlanjur bayar yang buat saya tidak sedikit dan pastinya tidak akan bisa kembali. "Bapak, ibu, mbak dan mas mohon doanya..."

Di suatu hari seperti biasa saya berangkat kerja. Rasanya berat sekali. Kaki saya susah melangkah seperti diganduli beban sekwintal. Pikiran melayang jauh terbawa angin entah kemana. Wajah tak berdosa teman-teman seangkatan saya menatap penuh tanya dan iba karena mendengar sendiri percakapan saya dengan bos sebelumnya. Tapi tetap tak bisa berbuat apa-apa juga hanya saling membantu doa. Tiba-tiba bos nomer 1 datang. Entahlah apa yang terjadi, saya melihat bos nomer 2 keluar dari toilet dengan muka merah seperti bekas menangis dan marah kepada saya seakan saya mau di telen mentah-mentah. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi diantara bos-bos itu. Tiba-tiba saya melihat jadwal saya dikembalikan seperti semula. Jeddeeeerrr.... Apakah saya senang? Tidak. Disisi lain memang ada rasa senang, tapi dibalik itu justru lebih menyeramkan lagi. Bos nomer 2 marah besar pada saya. Dan otomatis beberapa senior pun ikut-ikutan marah apalagi saya masih 'yesterday afternoon child'. "Anak baru udah macem-macem!!". Beeughhh....

Dari hari ke hari kerja rasanya seperti berada diantara bara api. Segalanya harus hati-hati agar tidak sampai melepuh kesenggol bara, harus menjauhkan bahan-bahan yang mudah terbakar agar api tidak menjalar kemana-mana. Hanya teman-teman seangkatan dan beberapa senior yang masih welcome menegur saya. Apalagi bos nomer 2, bisa mual muntah melihat saya. Sempat terlintas untuk mencari kerjaan baru, tapi berpikir kembali disini saya sudah diberi waktu hanya harus bener-bener tebal muka, telinga dan perasaan. Sedangkan di tempat baru belum tentu jadi semakin mudah. Akhirnya saya bertahan dengan apapun yang akan terjadi. What ever will be will be.

Lama-lama saya jadi gondok sendiri melihat tingkah polah beberapa senior saya, lebih gondok dari pada digosipin pacaran sama artis. Tidak ada urusan apapun, cembetat cembetut setiap hari mendiamkan saya. Dih siapa lo. Okey gw juga bisa, lagian apa ruginya didiemin. Ga ditegur ya udah saya juga diem aja. Kalau dipikir-pikir apakah semua salah saya? Yang ada juga semua masalah yang seharusnya mulus malah dibikin ribet sendiri. Tapi pada akhirnya saya berterima kasih atas sikap mereka, karena dibenci setiap hari justru itulah yang menjadikan semangat saya untuk melawan penyakit malas. Kalau ga ada kejadian seperti ini hidup saya juga akan datar-datar aja tidak akan seperti pelangi. Lihat saja bisa tahan berapa lama. Saya tandain kalender saya sejak pertama gendang berbunyi (ga ada kerjaan banget), tapi emang ngeselin awas aja kalau saya lulus sampai ngebahas traktir-traktir hihihi... kesel buanget gitu ceritanya. Ternyata tidak lebih dari dua bulan semua telah baik-baik saja. Capek sendiri kan?

Masalah saya selesai, masih ada satu teman yang sama-sama kuliah lagi tapi beliau tidak seberuntung saya. Kami sama-sama berangkat bersama, saya diberi kesempatan walaupun sambil gonjang ganjing hebat sedangkan beliau tidak sama sekali. Bisa dibayangkan gimana rasanya. Walaupun saya dipihak yang beruntung tapi rasanya miris melihat teman saya begitu?. Saya tidak bisa berbuat apapun, menyinggung sedikit aja bisa meledak lagi apalagi mau membahasnya. Hanya permintaan maaf dan doa dari lubuk hati yang paling dalam semoga Allah memberikan yang terbaik buat beliau. Disatu sisi saya ingin membahagiakan orang tua tapi disisi lain ga tega dengan nasib teman saya. Hanya bisa pasrah.

Seiring berjalannya waktu, kuliah saya kadang lancar kadang tersendat. Tersendat karena benturan dengan  waktu kerja. Saya harus merelakan tidak lulus di satu mata kuliah dari pada harus bermasalah lagi di tempat kerja. Kebetulan mata kuliah yang itu dosennya bener-bener killer, saya pun hanya ikut dua kali kuliah tau-tau ujian. Wajar kan. Untuk mata kuliah yang lain masih bisa dikejar sepulang kerja. Malem kerja pulang pagi langsung berangkat kuliah sampai sore, pulang kuliah istirahat di dalam bus sampai di kost udah malem dan langsung kerja lagi. Begitu seterusnya sampai 3 hari, hari berikutnya baru bisa balas dendam tidur. Tak jarang badan saya berontak sampai beberapa kali harus bobok di ruang perawatan rumah sakit. Kadang berpikir buat apa sih sampai badan bobrok begini, lagi-lagi alasannya karena foto dan pesan ibu saya. Membayangkan wisuda bapak dan ibu datang dari kampung mendampingi saya, wahh..semangat sekali. Nyontek kata-kata bijak dari novel "Sekiranya aku berhasil di dalam hidup, keberhasilanku adalah keberhasilan ibu".

Dua tahun berlalu setelah jungkir balik mengatur jadwal, bolak balik mendengkur di bus Cilegon - Jakarta, ngutang temen untuk beli leptop, mengurus ijin PKL, ijin penelitian dan mual muntah ujian skripsi, akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu datang juga. Saya menelpon bapak dan ibu untuk menghadiri acara wisuda di kampus. "Bapak, Ibu ternyata anakmu bisa lulus hehehe...". Dari suaranya terdengar senang sekali. Dan tiada yang membuat saya bangga selain melihat mereka tersenyum.

Alhamdulillah akhirnya bisa mempersembahkan ijazah buat orang tua walaupun hanya dengan IPK yang pas-pasan. Hiks..mewek bahagia. Jadi kuliah cuma pengen wisudanya? Hmmm...iya juga sih...

Saya yang sangat bersyukur, bapak, ibu, kakak nomer 4, kakak ipar dan keponakan.
Inilah semangat saya, wisuda ibu Tahun 1995 (kalau ga salah) di Universitas Terbuka Malang.

Sekarang ijazah saya masih mangkrak hanya buat alas tidur dan benar saja sering kali saya mendengar celetukan dari lingkungan sekitar, "Lo kuliah juga ga berguna kan, lo kuliah lagi tapi gaji kita sama aja ngapain juga repot-repot". Yak elah hari gini masih punya pikiran begitu. Dari pada berdebat dengan orang seperti itu lebih baik saving energi, anjing menggonggong katiyem tetap berlalu. Yakin deh pasti jauh di lubuk hatinya sebenarnya pengen juga tapi tidak kesampaian. Kalau ga pengen kenapa juga anak-anaknya disuruh sekolah. Tapi lagi-lagi perkataan seperti itulah yang membuat saya semangat sampai akhirnya  bisa menulis blog ini.

Buat teman-teman saya nun jauh disana yang masih menyelesaikan kuliah, tetap semangat dan tetap memohon kepada Allah SWT agar diberikan kemudahan. Tidak ada ilmu yang tidak bermanfaat.

Previous
Next Post »