Pagi itu di Ciang Mai yang masih dingin padahal jam 8.30, saya cek out dari penginapan. Pemilik penginapan belum bangun dan harus digedor oleh pembantunya. Lalu mencari songthaew (mirip angkot) untuk mengantarkan ke terminal dengan ongkos 80 THB, entahlah murah atau mahal saya paling tidak bisa menawar dan males juga. Saat baru datang naik ojeg juga segitu. Songthew di sana sepertinya tergantung permintaan minta dianter kemana, ga ada trayek seperti angkot disini karena sampai di terminal penumpangnya saya sendiri.
Sengaja berangkat dua jam sebelum jam keberangkatan bus ke Chiang Rai untuk berjaga-jaga kali aja perjalanan ke terminal kurang lancar ternyata ga sampai 20 menit nyampe artinya harus menunggu 1 jam 40 menit lagi. Tiket sudah saya beli sehari sebelumnya. Saya taunya hanya Green Bus yang berangkat tiap jam sekali dan saya beli yang jam 10.30 agar tidak terburu-buru karena khawatir paginya males bangun. Sepertinya masih banyak juga armada bus yang lain.
![]() |
| Penampakan tiket |
Saya coba tanya ke counter tiket kali aja bisa pindah ke bus yang berangkat lebih cepat. Ternyata full. Apa boleh buat saya harus menunggu sambil kedinginan di dekat platform tempat bus yang nantinya akan parkir. Beberapa kali diajak ngobrol oleh orang menggunakan bahasa Thailand termasuk dengan para staf bus, dikira saya asli Thailand. Malah ada ibu-ibu sudah agak tua nyerocos aja ngajakin ngobrol "kha khu hengheng ngek ngoook" saya sudah bilang "sorry l'm an lndonesian l can't speak Thai" tetep aja ga mau diem sepertinya tanya sesuatu lama-lama berubah muka jadi bete karena saya hanya senyum-senyum ga menjawab apa-apa. Setelah dijelaskan oleh salah satu orang disitu dengan bahasa barulah ketawa.
Penumpang bus ke Chiang Rai sebagian orang lokal dan sebagian lagi bule berambut pirang. Beberapa kali say hello katanya dari Maroko, Rusia, England, Spanyol dan tidak tau dari mana lagi. Sepertinya yang dari lndonesia saya sendiri. Sempat ngobrol asyik dengan mas ganteng dari Maroko yang sama-sama belum tau banyak tentang Chiang Rai tapi sayang busnya berangkat duluan, dia mencoba memastikan lagi ke staf bus kali aja saya bisa pindah bus, ternyata bener bener full. Terpaksa deh say good bye ama yayang eits...
![]() |
| Penampakan Green Bus |
Beberapa saat kemudian bus datang, saya dan penumpang lainnya gantian masuk. Saya duduk bersebelahan dengan ibu dari Rusia mungkin hampir seusia dengan ibu saya, bernama Victoria yang berprofesi sebagai guru matematika. Beliau bersama suaminya tapi di kursi sebelah. Kami ngobrol dengan bahasa lnggris campur bahasa tarzan karena bahasa lnggris ibu lebih kacrut dari pada saya.
Busnya nyaman sekali seat 2-2, tempat duduk dan sandaran kakinya luas. Sebelum berangkat dibagikan air mineral dan snack (hanya wafer sih). Kemudian bus berangkat bener bener tepat waktu. Jalannya lebar halus dan jarang sekali ada lubang, walaupun naik turun belok belok tapi tidak berasa goyang. Pemandangan di kanan kiri jalan dipenuhi dengan hutan dan kadang-kadang ada segerombol perkampungan. Karena capek ngobrol dengan bahasa tarzan saya pun pura-pura tidur dan akhirnya tidur beneran.
Setengah perjalanan bus berhenti di rest area yang sederhana sekali. Penumpang bisa turun dulu membeli makan atau ke toilet. Saya dan mbak bule berambut pirang bingung mencari toilet karena tulisannya keriting semua. Ternyata ada di belakang toko, bayar 3 THB. Suasananya mirip seperti kampung di Jawa cuma beda bahasanya.
Selesai istirahat bus kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini jalannya banyak berbukit mirip tol cipularang km 90an ke atas sehingga ada beberapa penumpang yang terdengar hoek hoek mabok. Saya jadi ikut-ikutan pusing, tapi syukurlah tidak sampai mual.
Beberapa lama kemudian bus memasuki kota Chiang Rai dan berhenti di sebuah terminal. Saya dan ibu sebelah sempat bingung sudah sampai terminal tapi kok penumpang belum disuruh turun. Untunglah mbak bule berambut pirang tanya ke sopirnya "Chiang Rai?". Katanya baru sampai di terminal 2 sedangkan kita akan diturunkan di terminal 1. Baiklah saya nurut saja. Kemudian bus melanjutkan perjalanan kira-kira 5 kilometer lagi bus sampai di terminal 1. Total perjalanan mulai berangkat dari Chiang Mai memakan waktu 4 jam, lebih lama 1 jam dari yang dikatakan kebanyakan orang. Ternyata kota Chiang Rai kecil sekali tapi walaupun kecil sepertinya segalanya jauh lebih maju dibanding Pacitan. Ya iyalaah...
Begitu turun dari bus langsung diserbu oleh sopir tuk tuk padahal rencana mau jalan ke belakang terminal yang katanya banyak penginapan. Jadinya melipir mendekati mas bule 2 orang yang sama-sama gendong ransel. Katanya dari Spanyol dan belum dapet penginapan juga. Akhirnya saya bergabung dengan mereka mencari penginapan bareng. Dan dapatlah guesthouse 200 THB/malam kira-kira setengah kilometer di belakang terminal.
Rumah agak tua berhalaman luas cat pintu dan jendelanya dominan warna hitam abu abu jadi serasa seram-seram gimana gitu. Ditambah lagi resepsionisnya tante cantik chinnese berdandan menor ga banyak omong ga banyak senyum tatapan matanya dalem dan setajam silet. Busyet dah semakin terasa horor jangan-jangan tante ini vampir. Haiisshh...film banget. Habis bajunya juga mirip dengan teman-temannya Bella di film Breaking Dawn yaitu jaket yang lehernya bulu bulu menjuntai sampai ke bawah dengan motif totol macan. Rambutnya sebahu ikal di blow rapi, cantik sih kya selebritis tapi sepertinya ada yang salah dengan wajahnya.
| Pojok wifi di penginapan. Disini sinyalnya kenceng kalau dari dalam kamar keong banget bahkan ga bisa. Kamar saya dari pohon kelapa belok kanan lurus ke bawah. |
Kemudian saya diantar oleh tante berwajah horor itu ke kamar yang di rumah belakang, mas bule dapet kamar yang di depan yang masih serumah dengan resepsionis. Kamarnya lumayan luas karena memang untuk 2 orang, bersih walaupun perabotannya sudah kelihatan usang. Kasurnya dari kapuk tengahnya melengkung seperti perahu dan spreinya kelihatan kekecilan jadi semakin menambah melengkung. Mirip kasur dikost saya dari masa ke masa (sekarang udah springbed ya walaupun per'nya suka nusuk-nusuk punggung). Maklum 200 THB semalem masih lebih murah dan nyaman dibanding kamar dorm. Kamar mandinya juga luas bersih dan dilengkapi dengan air panas, nah itu yang penting karena Chiang Rai dingiiin banget. Biarpun begitu adanya tapi saya betah tinggal disitu, seandainya suatu saat berkesempatan ke Chiang Rai lagi bolehlah balik lagi karena suasananya yang rumah banget serasa lagi nginep di rumah saudara. Penasaran juga dengan tante berwajah horor, sudah ganti jaket belum ya karena selama saya disitu baju dan jaketnya ga ganti-ganti, ga mandi donk tante...haha..

