Setiap kali pulang keluyuran dari negeri orang ataupun di negeri sendiri saya selalu cerita kepada ibu pastinya beliau selalu merespon dengan ekspresi yang tak kalah senangnya. Lama-lama saya sadar kasian sekali beliau hanya menjadi pendengar setia alangkah baiknya kalau sesekali diajak biar ikut menikmati betapa indahnya dunia, ya setidaknya biar punya sedikit cerita.
Mengajak orang tua tentunya harus lebih prepare, itinerary harus jelas ga bisa sembarangan seperti biasanya saya yang asal berangkat. Mulai dari jam berangkat, flight jangan terlalu pagi atau malam agar ga mengganggu waktu istirahatnya, penginapan harus tinggal cek in ga mencari-cari lagi setelah sampai di tujuan, lokasi penginapan harus strategis terutama dekat dengan makanan halal, angkutan selama disana juga harus dipikirkan naik bus, subway atau taksi tentunya yang sesuai dengan kantong saya tapi yang tidak menyusahkan.
Jaman sekarang segalanya mudah tinggal booking online, semua beres. Tapi kebanyakan membutuhkan kartu kredit sedangkan saya tidak punya entahlah beneran males punya kartu pinjaman itu, lebih suka kartu debit yang menurut saya masih praktis juga. Banyak cara beli tiket pesawat bisa langsung booking sendiri ke airlinesnya atau melalui situs-situs pembelian tiket online yang terpecaya dengan pembayaran sistem transfer. Padahal kalau pakai kartu kredit tinggal klik ga usah repot ke atm, tapi menurut panggilan jiwa disitulah indahnya, saya lebih senang ke atm.
Sebenarnya kalau ga mau repot bisa pakai cara gampang tinggal duduk manis yaitu ikut travel tour tapi tentunya harus siap kocek yang lebih dan itu jarang tertulis di kamus saya. Lebih enak jalan sendiri bebas mengatur diri seenak udel dan ga terikat oleh jadwal. Destinasinya pun terserah mau kemana menuruti kata hati dan kaki ingin melangkah.
Dengan berbagai pertimbangan akhirnya saya ingin mengajak ibu ke Singapura, Malaysia dan Thailand lewat jalur darat. Karena beliau suka diajak berpetualang melihat tempat-tempat dan sesuatu yang baru. Berangkat dari Singapura pulang dari Bangkok. Tapi setelah browsing ternyata tiket promo yang murah hanya ke Singapura dan pulangnya dari KL. Yang pulang dari Bangkok mahal-mahaal. Okey no problem ke Thailand bisa ke Hatyai aja cukup melihat-lihat daerah yang berbatasan dengan Malaysia, saya ingin ibu menginjak 3 negara sekaligus.
Beruntung sekali tiket yang paling murah saat itu berada di jam 14.00 untuk berangkat dan jam 11.30 untuk pulang. Jadi paginya ga terburu-buru ke bandara dan sampai di tempat tujuan pun masih siang. Masih banyak angkutan umum yang murah tentunya hehhe...
Setelah chatting dengan beberapa teman Backpacker Dunia ternyata saya tidak disarankan ke Hatyai dengan alasan jaraknya terlalu jauh dan di sana ga banyak yang bisa dilihat. Kasian hanya capek di jalan. Saya disarankan dari Singapura mampir ke Melaka baru KL. Banyak pilihan bus langsung dari Singapura - Melaka dan dari Melaka - KL. Tinggal diusahakan sampai di Melaka siang hari karena jarak terminal ke kota lumayan jauh. Baiklah saya dengarkan saran dari teman-teman sekaligus saya sendiri penasaran karena belum pernah ke Melaka.
Selain bus langsung ada juga bus yang sambung menyambung yang harganya lebih murah, yaitu dari terminal Queen Street Bugis Singapura naik bus Causeway Link ke terminal Larkin Johor Bahru dengan ongkos 3SGD/orang. Nah dari terminal Larkin banyak pilihan bus ke berbagai daerah di Malaysia seperti ke Melaka, KL, Penang, Kedah dan lain-lain bahkan ada juga yang ke Hatyai. Tapi mengingat membawa orang tua yang lebih praktis pastinya naik bus yang langsung okeylah harus membayar lebih mahal.
Beres urusan pesawat dan bus sekarang ganti ke urusan penginapan. Saya agak takut membooking penginapan yang asal murah kasian ibu kalau ternyata kamarnya tidak nyaman. Sangat tidak mungkin juga kalau saya ajak menginap di kamar dormitory, kalau saya sendiri sih selonjoran di bandara pun okey.
Penginapan di Melaka dan KL tidak mengkhawatirkan setau saya harganya masih terjangkau, nah yang di Singapura so pasti harganya muahal-muahaal. Yang namanya guesthouse dan hostel aja mahal apalagi yang bernama hotel. Saran dari teman coba mencari guesthouse yang private room.
Setelah browsing-browsing saya menemukan hostel private room 60SGD/malam. Saya hanya iseng booking tapi tidak dibayar karena harus pakai kartu kredit. Beberapa jam kemudian tiba-tiba ada email masuk dari hostel itu menanyakan kenapa tidak jadi booking?. Saya tanya apakah boleh saya booking dan bayarnya waktu cek in? Ternyata diberi beberapa option yang salah satunya bisa ditransfer lewat bank di lndonesia pakai rupiah. Horeee...
Plong rasanya pesawat PP dan penginapan di Singapura sudah siap semua. Yang di Malaysia mah urusan nanti. Dan belakangan saya baru tau rupanya lokasi hostel itu lumayan strategis yaitu di daerah bugis dekat dengan stasiun MRT, halte bus, terminal Queen Street dan masjid. Yang terpenting adalah banyak makanan halal disekitarnya.
Satu bulan kemudian... (kya sinetron kan)
Di suatu siang yang cerah dan tidak menyengat pesawat murah air mendarat di bandara changi. Saya menyeret koper keluar dari pesawat, berjalan berdampingan dengan ibu menyusuri lorong menuju terminal 1. Suasana tidak begitu ramai karena bukan peak season. Selesai urusan imigrasi kami menuju ke stasiun MRT mengikuti papan petunjuk yang telah terpasang dimana-mana. Walaupun jauh naik turun tapi untungnya serba eskalator dan lift. Tak lupa saya men'top up kartu Ez Link saya dan membelikan tiket single trip untuk ibu menuju ke stasiun bugis.
Di suatu siang yang cerah dan tidak menyengat pesawat murah air mendarat di bandara changi. Saya menyeret koper keluar dari pesawat, berjalan berdampingan dengan ibu menyusuri lorong menuju terminal 1. Suasana tidak begitu ramai karena bukan peak season. Selesai urusan imigrasi kami menuju ke stasiun MRT mengikuti papan petunjuk yang telah terpasang dimana-mana. Walaupun jauh naik turun tapi untungnya serba eskalator dan lift. Tak lupa saya men'top up kartu Ez Link saya dan membelikan tiket single trip untuk ibu menuju ke stasiun bugis.
Tak lama kemudian kereta yang tidak begitu penuh membawa kami ke stasiun tanah merah. Lalu kami pindah kereta ke arah Joo Koon. Disini kereta lumayan penuh tidak ada tempat duduk lagi, tapi ada salah satu penumpang yang langsung berdiri memberikan tempat duduknya untuk ibu saya. Penumpang lanjut usia, ibu hamil, dan difabel memang diprioritaskan. Khususnya kursi yang di dekat pintu ditempeli gambar orang hamil, membawa anak, manula dan difabel. Penumpang disana mempunyai kesadaran yang tinggi, mereka akan menghindari kursi prioritas itu kecuali benar-benar tidak ada yang menduduki. Tapi jika kebetulan duduk disitu sewaktu-waktu harus siap berdiri. Salut deh. Membandingkan dengan kereta di Jakarta yang kursi prioritasnya tidak difungsikan dengan semestinya.
Sampai di stasiun Bugis kami turun kemudian mencari jalan keluar untuk menuju ke penginapan. Seingat saya ambil ke kanan arah raffles hospital nyebrang 3 kali. Ternyata lumayan jauh kira-kira setengah kilometer. Maaf ya bu.. Untungnya ibu terbiasa jalan. Tidak susah menemukan penginapan yang ternyata persis seperti gambar di internet. Berada di gang kecil dari depan bentuknya seperti warnet.
Setelah cek in kami diantar ke kamar oleh salah satu staf dan diajak berkeliling ditunjukkan semua kamar mandi, dapur dan seisinya yang semuanya boleh dipakai. Kamarnya sederhana sekelas hotel melati, berAC, tidak terlalu sempit tapi tidak juga luas masih cukup untuk gelar sajadah kalau mau sholat, bersih tapi tidak berjendela. Ada lemari dan gantungan baju, meja, handuk dan air mineral. Ibu sepertinya kurang nyaman apalagi kamar mandinya berada di luar walaupun tidak mengeluh tapi terlihat dari tatapannya. Akhirnya setiap mau ke kamar mandi saya selalu mendampingi dan menunggunya di depan pintu sampai selesai.
Tapi akhirnya ibu merasa senang setelah disapa oleh turis Afrika yang tak sengaja bareng ke kamar mandi "Hi mommy.." Ibu terheran-heran melihat keakraban dengan sesama penghuni hostel.
"Kalau di penginapan begini memang merakyat bu saling bertegur sapa, beda dengan di hotel mahal pasti pada jaga privasi. Disini ada dapurnya juga kalau mau air panas, masak mie, pinjem gelas, piring, mesin cuci, setrika semua boleh asal selesai diberesin lagi" jadi punya alasan buat membela diri deh.
"Enak ya berarti kya di rumah"
Hihihi akhirnya ibu merasa nyaman.
Selesai sholat maghrib kami keluar mencari makan sambil mencari masjid yang katanya dekat dari penginapan. Ternyata memang dekat, berada di belakangnya. Di sekitar masjid banyak restoran halal tapi ada beberapa yang sudah tutup. Saya mengajak ibu masuk ke salah satu restoran yang direkomendasikan oleh teman yang katanya okey. Lalu kami memesan nasi goreng dan es teh manis. Rasa kaget campur pengen ketawa setelah melihat nasi goreng yang disajikan. Porsinya buanyak kalau saya bisa dimakan 3 kali, warnanya merah rah, baunya lengus amis telur, campur ayam ama kambing. Padahal tadinya terbayang nasi goreng di lndonesia yang kuning-kuning merona, dicampur daging ayam, pakai telur ceplok di atasnya. Lhadhalah...yang ada malah kya gini...
| Kata ibu nasi goreng di cat |
Kalau ga inget harganya mahal saya ga mau makan, bener-bener bau uamiiis kya kambing yang ga mandi setahun. Mendingan makan nasi putih pakai sambel trasi ama krupuk. Suapan pertama rasanya mau m*ntah tapi inget bayarnya pakai dolar terpaksa harus ditelen. Dua kali suap harus diselingi dengan makan timun dan minum teh. Tapi ibu makan lumayan lahap entah lapar, suka atau terpaksa. Tadinya saya khawatir karena ibu tidak biasa dengan makanan asing ternyata malah kelihatan menikmati. Justru saya sendiri yang seleranya masih selera kampung. Cukup sekali deh ke restoran lndia. Rasanya sih agak mending tapi baunya yang bikin kapok.
Selesai makan kami jalan-jalan ke Garden by The Bay. Lampu-lampu di tamannya bagus setiap saat berganti warna, saya juga baru pertama kali kesana. Sebenarnya mau lihat laser show yang gratisan di pantai marina tapi sudah kemalaman. Belakangan saya tau ternyata pada malam itu tidak ada pertunjukan. Baguslah ga bikin nyesel. Kemudian kami berjalan-jalan di sekitar marina bay sand, nyebrang helix bride dan sesekali duduk-duduk sambil makan bekal. Malam itu tidak begitu banyak turis berkeliaran, kata ibu "ternyata Singapura sepi" Memang bukan peak season atau weekend, sejak dari bandara memang sepi sekali. Hanya di MRT dari Tanah Merah ke Bugis yang banyak orangnya selebihnya sepi. Patung singa muntah aja sampai berhenti muntah kirain bakal sepanjang waktu.
Pagi itu setelah sholat subuh kami masih males-malesan di kamar. Enaknya begini liburan tapi tidak mengejar target harus mengunjungi tempat sebanyak mungkin. Fleksibel aja tergantung kemampuan fisik dan kemauan hati. Masih pengen tidur ya tidur, liburan adalah saatnya memanjakan diri. Kira-kira jam 8 saya keluar nengok ke dapur mencari sarapan, ada teh, kopi, roti, mentega dan berbagai macam selai. Lumayan membangkitkan selera dari pada nasi goreng yang di cat merah semalam. Lalu saya membuat roti bakar dan teh manis, saya bawa ke meja di lorong sebelah di depan kamar yang lain. Ternyata bertemu dan kenalan dengan traveler dari lndonesia mbak-mbak dari Kalimantan, yang sudah berdandan rapi dan siap jalan-jalan. Selain itu ada beberapa keluarga yang saya denger dari Jakarta tapi tidak mau bertegur sapa hanya lirik-lirikan sesaat. Entah kenapa ketemu dengan sesama lndonesian aja malah melengos, ya sudah saya juga balik melengos.
Selesai makan saya balik ke kamar, rupanya ibu sudah bangun dan saya ajak keluar untuk makan. Saya bawakan juga makanan instant dari rumah seperti Ind*mie goreng, mie gelas, energ*n, susu barang kali ibu ga selera dengan sarapan di hostel. Ternyata malah pilih roti bakar.
Jam 10 lewat yang mana penghuni hostel lainnya sudah jalan entah sampai mana, kami baru siap beranjak dari hostel. Tujuan kami kali ini ke Merlion Park, katanya ke Singapura belum lengkap kalau belum berfoto dengan patung singa muntah. Cuacanya panas menyengat tapi saya sudah persiapan topi dan payung untuk ibu.
Puas berfoto-foto tiba-tiba panas berganti dengan hujan rintik-rintik. Untungnya kami sudah sampai di depan esplanade lalu masuk ke dalam untuk berteduh sekalian ke stasiun MRT. Kami akan naik MRT ke stasiun Harbourfront dan kemudian jalan-jalan ke sentosa island.
Kata ibu Singapura penataannya sangat bagus jadi semua terlihat menarik. Naik ke bukit disediakan eskalator, di tengah hutan disediakan tempat istirahat yang dilengkapi dengan musik-musik, bus gratis, kereta gratis, dan yang paling disalutkan adalah kebersihannya. Di Singapura memang punya kesadaran yang sangat tinggi akan kebersihan lingkungan. Buang sampah dan meludah sembarangan akan didenda.
Dari keluar hostel sampai jalan ke sentosa island suasananya ramai tidak seperti malam sebelumnya yang terlihat seperti tidak ada orang. Melihat keramaian ibu jadi semangat berada diantaranya. "Singapura ternyata rame ya" Lah semalem bilang sepi hahaha...
"Ibu pengen ke tempat orang lndonesia belanja-belanja ga?"
"Ga, paling yo ngono tok"
Hehehe...baguslah saya juga males bu. Inilah salah satu kebiasaan yang diturunkan ibu kepada saya, tidak suka shopping.
"Ga, paling yo ngono tok"
Hehehe...baguslah saya juga males bu. Inilah salah satu kebiasaan yang diturunkan ibu kepada saya, tidak suka shopping.
Sampai di sini dulu ceritanya lain kali diterusin lagi yang ke Melaka dan Kuala Lumpur. Kalo ga males.