Diberdayakan oleh Blogger.

Rabu, 19 November 2014

Latihan Solo Travelling - Nyasar is Beautiful

Gara-gara keracunan artikel di majalah tentang solo travelling “Tidak usah takut jalan-jalan sendiri pasti akan menemukan teman baru". Saya jadi penasaran pengen uji nyali, tapi bukan ke Paris seperti artikel di majalah itu saya hanya ke negara terdekat saja. Karena sudah pernah ke Singapura maka saya pilih ke Malaysia yang juga masih serumpun dengan Indonesia yaitu ke Kuala Lumpur. Sekalian karena penasaran pengen tau seperti apa kotanya mak cik penyanyi idola saya jaman kuliah dulu, kalau ponakan saya bilang namanya Iti Nungijah. Niatnya hanya satu harus bisa berfoto di depan menara petronas, karena menurut kisah-kisah orang, spot yang menarik di sana hanyalah itu. Dari situ saya mulai berburu tiket promo dan dapatlah tiket murah tapi tidak pakai meriah hanya dibawah harga standar.

Karena ini first time solo travelling saya terserang deg-deg’an apalagi menjelang hari H. Beberapa itinerary orang hasil browsing di google saya contek semua hanya saja saya buat yang lebih sederhana tanpa mengikuti yang shopping-shopping. Yang penting saya tau penginapan murah, letaknya strategis dan tidak jauh dari monorail atau LRT. Banyak yang bilang di daerah Bukit Bintang kemudian saya catat dua nama hotel di Jalan Alor. Kemudian cari rute dari airport menuju Bukit Bintang. Ada dua airport di KL yaitu KLIA dan LCCT (dulu belum ada KLIA 2). Pesawat saya akan mendarat di KLIA. 

Dari KLIA naik bus ke KL Sentral dengan ongkos 10 RM, lebih murah dibanding kereta. Ada beberapa bus diantaranya yang saya ingat adalah Airport Coach dan Aerobus. Dari KL Sentral lanjut naik monorail ke Stesen Bukit Bintang kemudian jalan kaki ke hotel sambil nanya-nanya. Selain itu harus tau juga transportasi dari hotel ke spot-spot yang pengen dilihat. Karena tujuannya ke menara petronas jadi saya browsing rute dari Bukit Bintang ke KLCC, yaitu naik monorail dari Stesen Bukit Bintang turun di Stesen Bukit Nanas lanjut naik LRT (Kelana Jaya) dari Stesen Dang Wangi ke Stesen KLCC.

Masih ada alternatif yang lain tapi saya cukup memegang dua primbon itu saja daripada kebanyakan malah bikin pusing. Itu juga masih harus mencari dimana letak stasiunnya karena saling berjauhan. Kalau sudah mentok alternatif terakhir adalah taksi. Tapi taksi di sana katanya harus tawar menawar udah gitu jelek-jelek lagi. Jadi lupakan taksi.

Berbekal sepasang baju di dalam ransel akhirnya berangkatlah saya pagi itu ke Bandara Soekarno Hatta. Saya naik travel dan dijemput di depan kost jam 5 pagi. Perjalanan ke bandara cukup lancar. Sampai bandara saya print tiket, check in dan ke imigrasi alhamdulillah semua lancar. Pesawat bergambar singa merah itu pun take off sesuai jadwal.

Dua jam kemudian mendaratlah pesawat di KLIA. Bandaranya bagus banget gede jauh dibanding Soekarno Hatta. Biar ga kelihatan norak saya pura-pura pede jalan mengikuti arus orang sambil lirik sana sini. Tiba-tiba semua berhenti di depan pintu seperti pintu lift saya pikir mau ngapain, ternyata harus naik train untuk ke imigrasi. Ouuw…

Di train itu saya ditanya oleh ibu-ibu dari Jakarta yang akan berlibur bersama suami dan dua anak perempuannya.

“Mo kemana?”
“Bukit Bintang”
“Sama donk, sendirian aja”
“Iya”
“Udah sering kesini ya?”
“Baru kali ini”
“Hah baru kali ini trus sendirian? Cuma bawa tas ini doank?”
“Iya, saya hanya semalam aja besok pulang” 

Ransel saya memang kecil karena hanya berisi sepasang baju. Lalu ibu itu menoleh ke anak-anaknya.

“Tuh pergi sendirian, kamu berani ga?” kedua anaknya hanya melihat saya diam tanpa senyuman khas gengsi anak-anak abege.

Tiba-tiba seisi train jadi melihat ke saya. Jadi takut kalau kalau ada yang berniat jahat gimana. Hiiyy... ga lah Insya Allah...

Turun dari train saya tidak bingung lagi karena ada barengannya. Selesai urusan imigrasi ibu mengajak saya barengan untuk mencari letak bus yang menuju ke kota karena satu tujuan dan sama-sama belum tau. Kami sempat menawar travel yang menurut petugasnya harganya “seratus lapan RM” dianter sampai hotel. Berarti kalau di bagi 5 orang seorang hanya 20 RM sekian. Akhirnya kami setuju naik travel walaupun sebenarnya saya kurang suka karena pengen mencoba naik angkutan umum. Tapi setelah bertransaksi ternyata “seratus lapan” itu maksudnya “180” bukan 108. Yaaahh..kalau gitu mah mahal, kami batalkan dan sepakat naik bus saja yang hanya 10RM. Asyiikk donk sesuai dengan itinerary saya.

Tak berapa lama kami menemukan tempat bus. Ada salah satu bus yang sudah siap jalan. Busnya bagus, nyaman, tempat duduknya lega. Saya duduk di kursi paling depan bersebelahan dengan bapak-bapak gendut orang India. Ibu dan keluarganya duduk di belakang. Setelah duduk dengan santainya saya minum dan dilihat aneh oleh sopirnya. Setelah saya perhatikan ternyata ada tanda larangan untuk makan dan minum di dalam bus. Ouuw pantesan.

Kurang lebih 1 jam bus mulai masuk kota Kuala Lumpur dan berhenti di pinggir jalan. Banyak penumpang yang turun. Menurut feeling saya belum sampai di KL Sentral. Saya dengar ibu bertanya ke sopirnya tentang bukit bintang dan disuruh turun disitu katanya sudah dekat. Saya pun diajak turun awalnya ragu tapi akhirnya ikut saja. Ternyata setelah turun ibu malah menawar taksi untuk ke hotel yang hanya muat berempat. Trus saya dimana di bagasi? Penuh kali ama koper-kopernya.

Dari sinilah mulai timbul masalah, saya ga tau itu di daerah mana. Segala ingatan tentang rute buyar semua. Tanya ke beberapa orang “Di mana stasiun monorail?” jawabannya tidak jelas semua. Ada satu petunjuk tulisan di gedung yaitu “Pudu Sentral” saya sering baca tentang itu tapi lupa itu tempat apa karena sebelumnya saya hanya mengandalkan KL Sentral tidak mendalami yang lain. Saya mencoba masuk ke Pudu Sentral barang kali disana ada bus, kereta atau monorail. Ternyata menurut penjelasan beberapa petugas di sana hanya ada bus dan kereta untuk tujuan yang jauh-jauh. Lalu saya tanya lagi “Gimana caranya ke Bukit Bintang?” semua menjelaskan dengan bahasa melayu yang sangat kental, yang saya tangkap maksudnya “Jalan kesana lurus jumpa ini ke kanan jumpa itu…” selebihnya saya ga tau ngomong apa. Dari pada beliau capek ngomong dan saya ga ngerti juga, saya segera berterimakasih dan pergi.

Sempat ada rasa menyesal mengikuti ibu itu harusnya tetap pada rencana awal. Karena di bandara diajak ngobrol serta tunggu-tungguan saya jadi lupa mampir ke bantuan kecemasan (pusat informasi) untuk meminta peta. Tapi ya sudahlah semua sudah terjadi dan kini tinggallah ku sendiri menjalani hari yang sepi.

Kemudian saya bergerak sekedar melangkahkan kaki daripada diam disitu akan menjadi bahan ledekan sopir taksi karena dari awal saya menolak tawarannya dan tentunya mereka ga bersedia memberi tau kemana arah jalan ke bukit bintang. Sambil jalan saya malah menemukan china town, petaling street, central market yang biasa tertulis di itinerary orang-orang. Tadinya saya hilangkan bagian itu ternyata malah ketemu duluan. Karena tidak ada niat shopping saya hanya melihat sekilas dan mengambil beberapa gambar saja.

Langkah demi langkah saya lalui akhirnya saya menemukan papan petunjuk arah ke “STESEN KERETA” lengkap dengan tanda panah yang cukup jelas. Rasanya seperti mendapatkan hadiah dari langit. Dari situ juga kelihatan seperti jalan layang rel kereta. Tapi yang agak membingungkan kenapa posisi jalan layang itu di sebelah kanan tapi petunjuk arahnya ke kiri, sempat ragu juga harus ikut yang mana. Kalau dipikir-pikir ya lebih baik mengikuti petunjuk. Setelah saya berjalan beberapa meter ada petunjuk lagi stesen kereta belok kiri, kemudian nyebrang lampu merah lurus ada petunjuk lagi stesen kereta belok kanan. Hati makin deg-degan karena semakin menjauh dari jalan layang yang tadinya kelihatan dan stesen kereta pun tidak juga saya temukan.

Malah semakin banyak pertokoan mana mungkin di daerah seperti itu dilewati kereta. Karena kaki saya mulai nyut-nyutan, lalu saya istirahat sejenak sambil memperhatikan ke sekeliling. Dan tiba-tiba saya teringat sesuatu yang sangat penting bahwa kereta di Malaysia itu artinya MOBIL. Berarti stesen kereta artinya stasiun mobil. Kampret!!! Dulu jaman kuliah suka sok-sok’an ngomong pake bahasa Malaysia gara-gara suka ama mak cik, tapi kenapa pas dipraktekkan ditempatnya jadi lupa semua. Dasar gebl*k menyebalkan! Saya marah pada diri sendiri.

Akhirnya saya jalan lagi tak tentu arah sambil berharap menemukan suatu petunjuk. Langit pada saat itu gelap, banyak mendung item bergelayutan. Ya Allah tolong jangan hujan dulu nanti saja kalau saya udah dapet hotel. Dan setelah jalan lumayan jauh tiba-tiba saya melihat “Stesen LRT” kalau tidak salah namanya Stesen Pasar Seni. Alhamdulillah terima kasih Ya Allah Engkau telah mengembalikan saya ke jalan yang benar.

Di stesen itu saya diam sejenak untuk belajar peta, yang paling saya tau hanya ke KLCC. Dari KLCC saya punya bayangan rute untuk ke bukit bintang. Kemudian saya beli tiket di mesin sambil membaca petunjuknya. Saya ikuti tahap demi tahap. Tapi sampai tahap memasukkan uang kok uang saya ditolak terus ada apa gerangan. Saya coba ulangi lagi tetap saja ditolak. Panik pun datang. Kebetulan ada bapak-bapak katanya orang Medan tapi sudah lama tinggal di KL. Saya diajari oleh beliau, kenapa uang saya ditolak terus rupanya pecahannya kegedean. Oalah cuy..baca donk dengan teliti. Saya disuruh tuker uang pecahan kecil di counter tiket. Nah barulah bisa beli tiket dengan lancar sampai sampai lupa ambil kembaliannya, lumayan 2.7 RM hiks...!!

Hanya menunggu beberapa menit kereta pun datang. Penumpangnya ga begitu rame masih banyak tempat duduk kosong. Setelah melewati 2 stasiun akhirnya sampailah saya di stasiun KLCC, cepat sekali sepertinya hanya lima menit. Kemudian saya mencari jalan keluar yang cukup membingungkan. Akhirnya saya muncul di pelataran Suria KLCC yang mana di atasnya bertengger dua menara kembar petronas. Saya langsung melambaikan tangan ke puncak menara sambil teriak sekenceng-kencengnya “Mak Ciiikk..aku di siniii…” tentunya hanya teriak di dalam hati.

Tak berapa lama setelah saya membaur dengan para pelancong lainnya di depan menara petronas tiba-tiba gerimis datang. Semua berlari berteduh ke teras mall. Syukurlah hujan tiba setelah saya berada di tempat yang benar. Tapi masih was-was juga karena belum dapet hotel. Hujan yang ga terlalu deres biasanya suka tahan lama. Hiks..!!

Saya menghabiskan waktu jalan-jalan di mall sambil menunggu hujan reda. Katanya mall disitu ada 2 yaitu Mall Suria dan Mall P. Ramlee. Tapi hanya di satu tempat dan batasnya juga ga jelas yang mana. Isinya juga sama aja seperti mall-mall di Jakarta seperti Plaza Senayan atau Taman Anggrek. Sebenarnya saya ga betah berlama-lama di mall tapi apa boleh buat.

Setelah hujan mereda tapi masih menyisakan gerimis kecil orang-orang banyak yang berhamburan keluar, saya pun ikut menerobos gerimis. Rasanya kok kurang menantang kalau saya kembali ke jalan yang sama waktu berangkat seperti petualangan telah berakhir (belagu bangeett). Akhirnya saya memilih berjalan kaki sambil berharap menemukan hotel di dekat menara petronas. Ternyata sepanjang jalan kenangan hanya ada perkantoran-perkantoran dan beberapa hotel gede-gede sudah pasti harganya selangit. Saya terus saja melangkahkan kaki dan ketemu dengan stasiun LRT lagi (lupa namanya). Saya pun menyerah dan masuk ke stasiun itu. Ketika sampai di pintu masuk tiba-tiba ada seseorang menegur saya “Haii…” yang bener aja di negara orang ada yang mengenal saya, mak cik kah? Apa memang saya mirip dengan orang terkenal? Ternyata ibu yang tadinya bareng dari bandara. Seperti ketemu teman lama jadinya. Setelah mengobrol beberapa saat akhirnya kami berpisah begitu saja meneruskan tujuan masing-masing.

Kemudian saya membeli tiket ke Stesen Dang Wangi dan lanjut naik monorail, tapi dimanakah letak stesen monorailnya? Setelah tanya kesana kemari rupanya kurang lebih 700 meter dari stesen LRT. Turun, naik, belok-belok, nyebrang jembatan, jalan luruuuus… baru deh sampai Stesen Bukit Nanas. Lalu membeli tiket ke Stesen Bukit Bintang.

Sampai di Bukit Bintang saatnya mencari lokasi hotel. Beberapa orang yang saya tanya menjawab tidak tau, tapi setelah menyebut jalan alor akhirnya banyak yang paham. Dan ketemulah hotel yang saya maksud. Ternyata hotel yang satunya (yang lebih murah) sedang di renovasi, terpaksa cek in ke hotel di seberangnya yang sedikit lebih mahal. Resepsionisnya baik sekali tapi ada bapak-bapak chinese yang ikut-ikutan nimbrung. Denger kalau saya dari Indonesia dengan santainya bilang "Oo..orang indon" **sialan, saya paling benci dibilang indon apa susahnya sih bilang Indonesia. Saya pun males ngejawabnya. Tapi masih aja nanya lagi,

"Apa nama? Hallooo..apa nama?"
"Apa nama? Dari mana maksudnya?" jawab saya pura-pura ketus padahal sambil menahan tawa plus nahan pipis.
"Iye, dari mana?
"Jakarta" 

Menurut beberapa info yang saya dengar dari mahasiswa Indonesia yang kuliah di Malaysia kalau bilang dari Jakarta tidak akan dipandang rendah, beda dengan bilang dari lndonesia katanya sih begitu.

Sore itu saya jalan-jalan di sekitar bukit bintang yang kebanyakan isinya mall. Tidak ada minat untuk masuk ke dalamnya. Lebih suka melihat-lihat yang ada di pinggir jalan. Salah satunya sedang ada syuting film, saya sempat mengintip sebentar. Artisnya masih anak abege kalau di lndonesia mungkin seperti Chelsea Olivia tapi yang gagal operasi plastik. Kesan yang saya dapatkan dari bukit bintang hanya biasa aja tidak ada sesuatu yang bikin WOW.

Kira-kira jam 5 sore saya kembali ke hotel untuk mandi dan bersiap sholat maghrib. Selesai mandi sekitar jam 6 saya siap memakai mukena sambil menunggu adzan di TV. Setelah saya melihat ke luar jendela kok masih terang benderang matahari masih mencorong. Lalu saya turun ke resepsionis untuk menanyakan jadwal sholat. Katanya sholat maghrip jam "tujuh setengah". Lah masih satu setengah jam lagi. Saya pengen ketawa denger tujuh setengah, karena terbiasa dengan setengah delapan. Bingung dengan waktu di Malaysia yang lebih cepat satu jam dari Indonesia. Lagi pula letak Indonesia lebih timur di banding Malaysia seharusnya lebih duluan tapi kenapa malah Malaysia yang lebih cepat?. Begitu juga dengan Singapura. Alasannya bisa dilihat di sini.

Malam itu di Kuala lumpur kebetulan banyak acara pesta menyambut hari kemerdekaan Malaysia. Pusat perayaan diadakan di 3 tempat yaitu di China Town, Little India dan satunya lagi saya lupa yang pasti bukan di Menara Petronas seperti tahun-tahun sebelumnya, katanya untuk tahun ini dibuat beda. Saya tidak datang ke salah satu tempat tersebut karena badan sudah terlalu capek. Namanya liburan jangan sampai menyiksa diri. Lebih baik menonton siaran live di TV. 

Soal makanan, di depan hotel atau di sepanjang jalan alor dari sehabis maghrib penuh dengan penjual makanan. Dari Chinnese food, India, Thailand, Melayu bahkan lndonesia semua ada. Tapi pada saat itu kebiasaan buruk saya sedang melanda, pengen makanan yang tidak ada yaitu bakso. Tiba-tiba terlintas bakso di dekat kost di Cilegon berakibat semua makanan disitu tidak ada yang mengundang selera. Akhirnya saya masuk ke minimarket membeli roti, biskuit, buah dan sotfdrink. Saya paksa jejelin dengan makanan itu yang penting perut keisi daripada sakit gara-gara males makan. Esok paginya saya tidak bingung mencari makan karena ada fasilitas breakfast dari hotel walaupun rasanya gambreng semua.

Selesai sarapan saya cek out dari hotel dan memulai eksplore kota Kuala Lumpur. Pertama saya kembali lagi ke KLCC karena kemarennya belum sempat berfoto dengan menara petronas. Ntar pulang ga ada bukti lagi. Karena puncak menara kelihatan dari hotel maka saya mencoba jalan kaki mencari jalan yang mengarah ke puncak menara. Sambil jalan saya jadi tau ternyata disana banyak juga yang menjual nasi pakai meja di emperan toko yang masih tutup. Dipenuhi oleh orang-orang yang akan berangkat ke kantor. Jadi serasa di Jakarta bukan di KL.

Setelah menyusuri jalanan di KL entahlah berapa kilometer akhirnya sampai juga saya di menara petronas. Belum begitu banyak orang di bawahnya. Saya duduk sejenak sambil memperhatikan tingkah polah orang-orang yang sedang berfoto. Kebanyakan mereka tidak sendirian. Tapi saya melihat ada satu mbak-mbak yang hanya sibuk motoin gedungnya aja sepertinya beliau pergi sendiri sama seperti saya. Perkiraan saya orang lndonesia tapi kerja di KL. Dalam hati saya akan mendekati mbak itu untuk minta tolong motoin saya. Tapi ternyata mbak itu malah mendekati saya duluan.

"Can you help me" sambil nyodorin kameranya
"Oh..sure, where are you from?"
"Indonesia"
"Wah podo mbak aku juga dari Indonesia, mbak dari mana?
"Bandung, tapi asli Surabaya"
"Berarti iso ngomong jowo mbak"
"Iso.."

Beliau bernama mbak Any yang sedang punya urusan kerja di KL tidak seperti saya yang tidak punya tujuan (yee..ada donk). Saya kan sedang membuktikan artikel di majalah kalau solo travelling akan menemukan teman baru dan ternyata terbukti saya kenal dengan mbak Any. Akhirnya kami saling foto-fotoan, foto bareng dan berlanjut jalan-jalan bareng. Saya diajari cara memoto gedung tinggi yaitu dengan guling-gulingan di lantai yang ujung-ujungnya dimintai tolong oleh banyak orang "mbak sekalian donk.." lupakan malu dan urusan norak nomer sekian.

Setelah punya teman akhirnya bisa cekikikan bareng ngomentari tulisan-tulisan di pinggir jalan yang lucu-lucu "Awasi Penyeluk Saku, Balai Polis Bergerak, Pusat Pelancongan, Pusat Beli Belah (kalau ga beli mungkin akan di belah)". Andai saja ketemu dari kemaren, bisa langsung ketawa ketiwi lepas ga tertahan di dalam hati. Sekedar saran buat yang susah menahan tawa sebaiknya kalau pertama kali jalan-jalan ke Malaysia bawalah teman agar tidak senasib dengan saya, senyum-senyum sendiri di jalan (saya masih waras ya).

Saya dan mbak Any

Hari itu saya menghabiskan waktu bernorak ria bersama mbak Any, sebelum akhirnya kami harus berpisah. Saya pulang ke Jakarta dan mbak Any masih stay semalam lagi di KL meneruskan urusan kerjanya. Rupanya mbak Any tertarik dengan cara preman saya ke bandara dengan naik angkutan umum massal bukan naik taksi seperti waktu beliau baru datang. Senang sekali saya bisa berbagi info dengan beliau. Dan masih banyak lagi pelajaran baru yang saya dapatkan dari mbak Any. Thanks mbak Any :)

Previous
Next Post »